Jakarta (ANTARA News) - Baru-baru ini Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tengah merancang strategi modernisasi nelayan. Strategi itu berupa transformasi nelayan dari status nelayan "artisanal" yang beroperasi di wilayah pesisir menjadi nelayan laut lepas.
Tak tanggung-tanggung kebijakan ini akan menelan biaya sekitar Rp1,5 triliun yang akan diberikan kepada para nelayan.
Potongan berita di atas mungkin merupakan suatu kabar gembira bagi para nelayan yang berada di pesisir-pesisir pantai untuk lebih melebarkan usaha "pernelayanan" mereka, tapi kabar tersebut jangan hanya di tinjau dari jumlah uang yang dikeluarkan oleh pemerintah saja, melainkan juga harus melihat aspek-aspek yang lainnya juga. berdasarkan sumber terdapat empat aspek yang setidaknya harus diperhatikan antara lain:
Pertama, keterbatasan modal kerja mengingat beroperasi dengan kapal besar membutuhkan biaya perbekalan dan bahan bakar yang tidak kecil. Tidak adanya modal kerja membuat nelayan tidak siap dengan perbekalan dan pada akhirnya tak siap melaut. Umumnya pemerintah hanya fokus pada pengadaan armada tanpa diiringi dengan bantuan modal kerja.
Kedua, keterbatasan keterampilan, mengingat beroperasi dengan armada besar membutuhkan ketrampilan khusus dalam permesinan. Hal ini pun sering diabaikan oleh program pemerintah.
Ketiga, keterbatasan mental berusaha. Dengan menangkap ikan di laut lepas diperlukan keberanian dan daya juang lebih dibandingkan dengan usaha di wilayah pesisir. Kebiasaan beroperasi secara harian ternyata berpengaruh saat mereka hendak menjadi nelayan laut lepas.
Keempat, keterbatasan pengetahuan tentang sumberdaya ikan. Nelayan artisanal sudah terbiasa menangkap ikan di wilayah pesisir, dan mereka paham betul karakteristik ekosistem, sehingga dengan mudah mereka menentukan daerah penangkapan ikan, jenis ikan yang ditangkap, waktu penangkapan, serta alat tangkap yang sesuai.
Dengan beroperasi di laut lepas, nelayan menghadapi kondisi sumberdaya yang karakteristiknya berbeda. Tidak mudah bagi nelayan untuk menyesuaikan diri dengan kondisi yang berbeda tersebut.
tentu sebaiknya keterbatasan tersebut jangan dibuat sebagai penghalang untuk lebih maju, karena bila ditinjau lebih dalam, para nelayan tradisional sesungguhnya telah tertinggal jauh dari nelayan-nelayan modern yang telah menggunakan alat-alat canggih untuk menangkap ikan yang lebih besar, lebih kecil, dan mereka mampu untuk menyimpan hasil tangkapan tersebut lebih lama dibandingkan nelayan tradisional yang harus segera bekerja keras untuk menjual hasil tangkapan mereka.
Siapa yang tidak mau???
Kira-kira masih adakah nelayan yang menggunakan etika untuk menangkap ikan dengan baik, dengan memandang segi ekosistem laut?? bukan dengan menggunakan pukat harimau ataupun bom??
yang dimana dapat merusak ekosistem ikan-ikan kecil dan terumbu karang??
kita mengharapkan modernisasi nelayan yang dilakukan oleh pemerintah tersebut dapat membuat ekosistem laut menjadi indah dan hasil ikan menjadi berlimpah. Amien...
Diambil dari berbagai sumber