Rabu, 08 Mei 2013

Promo Tabloid Pulsa


 Ini contoh marketing tipe baru atau lama ya?
semakin banyak di click, maka points kita semakin banyak, otomatis kemungkinan menang juga semakin besar
silahkan coba click-click
hehehe



  Tabloid PULSA

Kamis, 22 April 2010

Teknologi, Ikan, dan Nelayan

Jakarta (ANTARA News) - Baru-baru ini Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tengah merancang strategi modernisasi nelayan. Strategi itu berupa transformasi nelayan dari status nelayan "artisanal" yang beroperasi di wilayah pesisir menjadi nelayan laut lepas.
Tak tanggung-tanggung kebijakan ini akan menelan biaya sekitar Rp1,5 triliun yang akan diberikan kepada para nelayan.

Potongan berita di atas mungkin merupakan suatu kabar gembira bagi para nelayan yang berada di pesisir-pesisir pantai untuk lebih melebarkan usaha "pernelayanan" mereka, tapi kabar tersebut jangan hanya di tinjau dari jumlah uang yang dikeluarkan oleh pemerintah saja, melainkan juga harus melihat aspek-aspek yang lainnya juga. berdasarkan sumber terdapat empat aspek yang setidaknya harus diperhatikan antara lain:

Pertama, keterbatasan modal kerja mengingat beroperasi dengan kapal besar membutuhkan biaya perbekalan dan bahan bakar yang tidak kecil. Tidak adanya modal kerja membuat nelayan tidak siap dengan perbekalan dan pada akhirnya tak siap melaut. Umumnya pemerintah hanya fokus pada pengadaan armada tanpa diiringi dengan bantuan modal kerja.

Kedua, keterbatasan keterampilan, mengingat beroperasi dengan armada besar membutuhkan ketrampilan khusus dalam permesinan. Hal ini pun sering diabaikan oleh program pemerintah.

Ketiga, keterbatasan mental berusaha. Dengan menangkap ikan di laut lepas diperlukan keberanian dan daya juang lebih dibandingkan dengan usaha di wilayah pesisir. Kebiasaan beroperasi secara harian ternyata berpengaruh saat mereka hendak menjadi nelayan laut lepas.

Keempat, keterbatasan pengetahuan tentang sumberdaya ikan. Nelayan artisanal sudah terbiasa menangkap ikan di wilayah pesisir, dan mereka paham betul karakteristik ekosistem, sehingga dengan mudah mereka menentukan daerah penangkapan ikan, jenis ikan yang ditangkap, waktu penangkapan, serta alat tangkap yang sesuai.
Dengan beroperasi di laut lepas, nelayan menghadapi kondisi sumberdaya yang karakteristiknya berbeda. Tidak mudah bagi nelayan untuk menyesuaikan diri dengan kondisi yang berbeda tersebut.

tentu sebaiknya keterbatasan tersebut jangan dibuat sebagai penghalang untuk lebih maju, karena bila ditinjau lebih dalam, para nelayan tradisional sesungguhnya telah tertinggal jauh dari nelayan-nelayan modern yang telah menggunakan alat-alat canggih untuk menangkap ikan yang lebih besar, lebih kecil, dan mereka mampu untuk menyimpan hasil tangkapan tersebut lebih lama dibandingkan nelayan tradisional yang harus segera bekerja keras untuk menjual hasil tangkapan mereka.



Siapa yang tidak mau???
Kira-kira masih adakah nelayan yang menggunakan etika untuk menangkap ikan dengan baik, dengan memandang segi ekosistem laut?? bukan dengan menggunakan pukat harimau ataupun bom??
yang dimana dapat merusak ekosistem ikan-ikan kecil dan terumbu karang??
kita mengharapkan modernisasi nelayan yang dilakukan oleh pemerintah tersebut dapat membuat ekosistem laut menjadi indah dan hasil ikan menjadi berlimpah. Amien...



Diambil dari berbagai sumber

Senin, 05 April 2010

Reaksi Polri 'malu-malu' atau 'cari aman'???


mungkin masih hangat di pikiran kita mengenai kasus terorisme yang beredar di media, dimana dalam hal ini "kepolisian Republik Indonesia" telah membuat sebuah prestasi yang bisa dikatakan membanggakan. sebagai rakyak Indonesia kita tentunya juga merasa bangga! dimana pada saat itu kepolisian kita berhasil membekuk jaringan teroris yang selama ini bersarang di wilayah Indonesia. kepolisian pun mengeksekusi mati teroris internasional Nurdin M Top yang selama ini di cari-cari oleh kepolisian internasional (bayangkan, kepolisian internasional aja yang katanya lebih baik dari kepolisian Indonesia susah banget buat nangkep ni orang!). dimana pabila kita melihat tindakan dari polri adalah lebih untuk mengamankan daerah sekitar tempat penggerebekan dengan mengungsikan warga sekitar area pengepungan. tindakan polri ini dapat kita acungi jempol karena korban warga sipil adalah nihil.
tapi tindakan kepolian dalam menangani kasus terorisme tersebut tidak akan kita lihat dalam penanganan kasus korupsi atau yang sedang in saat ini adalah Markus. markus yang dimaksudkan adalah makelar kasus! dimana kalau kita tahu makelar adalah orang yang bertugas untuk menghubungkan antara penjual dan pembeli (bahasa kasarannya ya seperti itu..,, hehe) akan tetapi makelar yang satu ini adalah amat spesial! dimana yang menjadi penjual adalah hakim-hakim atau pejabat-pejabat yang dapat membuat peraturan atau keputusan berdasarkan pesanan sang pembeli! (lho???) yups dalam hal ini anda dapat percaya tidak percaya dalam menanggapinya!! akan tetapi hal inilah yang benar-benar terjadi sekarang ini! aib ini keluar setelah pengakuan dari seorang Komjen Pol Susno Duadji (wuih..) mungkin kalau yang mengeluarkan statemen orang biasa seperti saya mungkin tidak akan pernah mendapat tanggapan!! tapi ini lain! seorang Komisaris Jendral!! mantan Kabareskrim yang pastinya tahu seluk beluk dari kepolisian itu sendiri!!
bayangkan apa yang akan anda lakukan bila bawahan anda mengatakan bahwa kebobrokan bukan berada di tempat lain! melainkan berada di institusi milik anda sendiri! apakah yang akan anda lakukan???
“Saya tidak pernah mengatakan tidak (ada) tapi belum ditemukan indikasi,” kilah Kadivhumas Mabes Polri Irjen Pol Edward Aritonang.
Menurut Edward, kesimpulan awal polri memang belum menemukan adanya keganjilan.
Namun setelah tim independen yang dibentuk Kapolri bekerja, baru ditemukan adanya keganjilan.
“Sekarang proses oleh tim independen masih berproses dan ditemukan kejanggalan itu,” imbuhnya.
*dikutip dari hariansib.com
memang tidak semuanya saya masukkan, melainkan hanya kutipan diatas karena menurut saya kutipan tersebut sangat menarik! bukan karena apa, tapi melainkan kutipan tersebut diambil dari potongan jumpa pers mabes polri secara resmi! jadi, mestinya sebelum mengadakan jumpa pers, polri telah mengumpulkan kata-kata yang tepat untuk mereka ucapkan. tapi apa yang terjadi?? polri seperti kebakaran jenggot!
semoga bukan berarti polri melakukan 'malu-malu' dalam mengungkap kasus yang sebenarnya terjadi. hal ini terindikasi karena petinggi-petinggi polri terlibat dalam kasus markus pajak sebesar 25 milar rupiah yang dimiliki oleh Gayus Tambunan. bukan karena apa, tapi masyarakat lebih membutuhkan keterbukaan dalam menghadapi kasus seperti ini. karena rakyat tidak bodoh, dan rakyat tidak cuek! rakyat dapat bersuara lantang apabila polri terus-menerus bertindak 'malu-malu' (opini aja sih...,, hehe)
Jayalah terus Indonesia!!!

kalau boleh saran sih,, Polri harus dapat bertindak lebih tegas dalam menumpas Markus! itupun kalau polri serius dalam menangani kasus ini.
kedua, harus ada keterbukaan dalam proses penanganannya! bukan karena apa, melainkan agar masarakat tahu,, dan ini secara langsung/tidak langsung menimbulkan efek jera. karena keluarga akan merasa malu dan masyarakat akan condong untuk tidak mempercayai orang yang tersangkut kasus. secara tidak langsung orang lain yang tadinya mempunyai niatan untuk korupsi menjadi berfikir 2 kali...,, hehe
ketiga, pengawasan kekayaan dan atau kinerja pekerja di badan keuangan oleh pihak independen yang bertujuan untuk memantau pekerjaan mereka dan penghasilannya sehingga menghasilkan kekayaan seberapa (tapi jangan sampai jadi lahan baru untuk berbuat korupsi)
keempat, dan mungkin ini adalah cara yang paling ekstrim,, yaitu menghukum mati para pelaku tindak korupsi (kalau syariat Islam orang yang mencuri 1 kali dihukum potong tangan kiri, 2 kali potong tangan kanan, ke3 dan seterusnya gak bisa dibayangin deh,,) ini adalah cara yang paling besar untuk membuat efek jera!! haha

tapi bagaimanapun juga semoga kasus yang terjadi tidak membuat 'tikus-tikus' semakin menjadi-jadi

semoga bangsa Indonesia menjadi bangsa yang kuat dan makmur! amien..