Senin, 05 April 2010

Reaksi Polri 'malu-malu' atau 'cari aman'???


mungkin masih hangat di pikiran kita mengenai kasus terorisme yang beredar di media, dimana dalam hal ini "kepolisian Republik Indonesia" telah membuat sebuah prestasi yang bisa dikatakan membanggakan. sebagai rakyak Indonesia kita tentunya juga merasa bangga! dimana pada saat itu kepolisian kita berhasil membekuk jaringan teroris yang selama ini bersarang di wilayah Indonesia. kepolisian pun mengeksekusi mati teroris internasional Nurdin M Top yang selama ini di cari-cari oleh kepolisian internasional (bayangkan, kepolisian internasional aja yang katanya lebih baik dari kepolisian Indonesia susah banget buat nangkep ni orang!). dimana pabila kita melihat tindakan dari polri adalah lebih untuk mengamankan daerah sekitar tempat penggerebekan dengan mengungsikan warga sekitar area pengepungan. tindakan polri ini dapat kita acungi jempol karena korban warga sipil adalah nihil.
tapi tindakan kepolian dalam menangani kasus terorisme tersebut tidak akan kita lihat dalam penanganan kasus korupsi atau yang sedang in saat ini adalah Markus. markus yang dimaksudkan adalah makelar kasus! dimana kalau kita tahu makelar adalah orang yang bertugas untuk menghubungkan antara penjual dan pembeli (bahasa kasarannya ya seperti itu..,, hehe) akan tetapi makelar yang satu ini adalah amat spesial! dimana yang menjadi penjual adalah hakim-hakim atau pejabat-pejabat yang dapat membuat peraturan atau keputusan berdasarkan pesanan sang pembeli! (lho???) yups dalam hal ini anda dapat percaya tidak percaya dalam menanggapinya!! akan tetapi hal inilah yang benar-benar terjadi sekarang ini! aib ini keluar setelah pengakuan dari seorang Komjen Pol Susno Duadji (wuih..) mungkin kalau yang mengeluarkan statemen orang biasa seperti saya mungkin tidak akan pernah mendapat tanggapan!! tapi ini lain! seorang Komisaris Jendral!! mantan Kabareskrim yang pastinya tahu seluk beluk dari kepolisian itu sendiri!!
bayangkan apa yang akan anda lakukan bila bawahan anda mengatakan bahwa kebobrokan bukan berada di tempat lain! melainkan berada di institusi milik anda sendiri! apakah yang akan anda lakukan???
“Saya tidak pernah mengatakan tidak (ada) tapi belum ditemukan indikasi,” kilah Kadivhumas Mabes Polri Irjen Pol Edward Aritonang.
Menurut Edward, kesimpulan awal polri memang belum menemukan adanya keganjilan.
Namun setelah tim independen yang dibentuk Kapolri bekerja, baru ditemukan adanya keganjilan.
“Sekarang proses oleh tim independen masih berproses dan ditemukan kejanggalan itu,” imbuhnya.
*dikutip dari hariansib.com
memang tidak semuanya saya masukkan, melainkan hanya kutipan diatas karena menurut saya kutipan tersebut sangat menarik! bukan karena apa, tapi melainkan kutipan tersebut diambil dari potongan jumpa pers mabes polri secara resmi! jadi, mestinya sebelum mengadakan jumpa pers, polri telah mengumpulkan kata-kata yang tepat untuk mereka ucapkan. tapi apa yang terjadi?? polri seperti kebakaran jenggot!
semoga bukan berarti polri melakukan 'malu-malu' dalam mengungkap kasus yang sebenarnya terjadi. hal ini terindikasi karena petinggi-petinggi polri terlibat dalam kasus markus pajak sebesar 25 milar rupiah yang dimiliki oleh Gayus Tambunan. bukan karena apa, tapi masyarakat lebih membutuhkan keterbukaan dalam menghadapi kasus seperti ini. karena rakyat tidak bodoh, dan rakyat tidak cuek! rakyat dapat bersuara lantang apabila polri terus-menerus bertindak 'malu-malu' (opini aja sih...,, hehe)
Jayalah terus Indonesia!!!

kalau boleh saran sih,, Polri harus dapat bertindak lebih tegas dalam menumpas Markus! itupun kalau polri serius dalam menangani kasus ini.
kedua, harus ada keterbukaan dalam proses penanganannya! bukan karena apa, melainkan agar masarakat tahu,, dan ini secara langsung/tidak langsung menimbulkan efek jera. karena keluarga akan merasa malu dan masyarakat akan condong untuk tidak mempercayai orang yang tersangkut kasus. secara tidak langsung orang lain yang tadinya mempunyai niatan untuk korupsi menjadi berfikir 2 kali...,, hehe
ketiga, pengawasan kekayaan dan atau kinerja pekerja di badan keuangan oleh pihak independen yang bertujuan untuk memantau pekerjaan mereka dan penghasilannya sehingga menghasilkan kekayaan seberapa (tapi jangan sampai jadi lahan baru untuk berbuat korupsi)
keempat, dan mungkin ini adalah cara yang paling ekstrim,, yaitu menghukum mati para pelaku tindak korupsi (kalau syariat Islam orang yang mencuri 1 kali dihukum potong tangan kiri, 2 kali potong tangan kanan, ke3 dan seterusnya gak bisa dibayangin deh,,) ini adalah cara yang paling besar untuk membuat efek jera!! haha

tapi bagaimanapun juga semoga kasus yang terjadi tidak membuat 'tikus-tikus' semakin menjadi-jadi

semoga bangsa Indonesia menjadi bangsa yang kuat dan makmur! amien..

1 komentar:

  1. wah masih kurang dang......penjelasanya krang di bagan solusi.....

    BalasHapus